Target Listrik Menyeluruh Taliabu Melampaui 2030, Terhambat Pembiayaan Lahan yang Dicicil

Foto Udara Pulau Taliabu. (Dok Izam)

TALIABU– Mimpi masyarakat Pulau Taliabu untuk menikmati penerangan listrik yang merata di seluruh desa terancam mundur jauh ke belakang. Berdasarkan analisis internal terhadap kapasitas fiskal dan pola penanganan kendala lahan, proyeksi realisasi elektrifikasi menyeluruh di kabupaten itu tidak akan tercapai sebelum tahun 2030, bahkan berpotensi melampaui batas waktu tersebut.

Akar persoalan terletak pada mekanisme pembebasan lahan yang tersendat oleh keterbatasan anggaran.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disrumkim) Kabupaten Taliabu diketahui hanya mampu membebaskan lahan secara bertahap dan dicicil setiap tahun anggaran kepada warga pemilik tanah dan tanaman produktif.

“Karena anggaran yang terbatas, jadi pembebasan lahan ini kami lakukan secara bertahap dengan cara cicil pelan-pelan,” Jelas Arwin Tamimi beberapa waktu lalu.

Skema seperti ini dinilai tidak realistis untuk mengejar target program percepatan listrik nasional, seperti Program Listrik Desa (Lisdes) yang memerlukan kepastian lahan sebelum pekerjaan dimulai.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Jika tidak ada terobosan pendanaan atau prioritas anggaran yang drastis dari pemerintah daerah, mustahil seluruh desa di Taliabu teraliri listrik sebelum 2030. Kita akan terus tertinggal,” Ungkap pihak vendor.

Keterlambatan ini diperparah oleh peringatan dari pihak vendor pelaksana. Mereka menyatakan bahwa jaringan listrik yang telah terpasang tetapi tidak segera dioperasikan akan menjadi aset mangkrak yang menyedot biaya perawatan.

“Dana program bisa habis untuk maintenance jaringan yang idle, bukannya untuk menghidupkan listrik. Ini merupakan inefisiensi yang besar,” tegas perwakilan vendor.

Dengan demikian, janji terang listrik untuk seluruh Taliabu tidak lagi sekadar soal teknis pemasangan, tetapi telah berubah menjadi persoalan politik anggaran dan prioritas pembangunan yang harus dijawab dengan langkah nyata oleh pemerintah daerah.

Tanpa intervensi dan akselerasi yang signifikan, gelapnya malam di banyak pelosok Taliabu diprediksi masih akan bertahan lebih dari setengah dekade mendatang. Mislan Syarif anggota DPRD Provinsi Maluku Utara berharap semua pihak dan duduk bersama untuk mencari solusi demi kemajuan Taliabu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup