Dari Baret TNI ke Kursi Dewan: Mislan Syarif Pulang Mengabdi untuk Membangun Taliabu

Mislan Syarif, anggota DPRD Pulau Taliabu Maluku Utara.

Maluku Utara – Nama Mislan Syarif sebagai seorang Politisi baru mulai dikenal luas sekitar tiga tahun belakangan. Namun dalam waktu singkat itu, ia telah menorehkan jejak yang sulit diabaikan.

Sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku Utara dari Partai Gerindra, Mislan gigih memperjuangkan nasib warga Taliabu dan Kepulauan Sula  dua kepulauan yang selama ini kerap terpinggirkan dari perhatian pembangunan.

Sejak bergabung dengan partai yang kini dipimpin Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Mislan terus mengukuhkan Gerindra sebagai rumah besar bagi kebangkitan dua daerah kepulauan ini. Dari podium DPRD hingga pelosok desa, ia membawa satu narasi yang konsisten: Taliabu dan Kepulauan Sula tidak boleh lagi dipinggirkan.

29 Tahun Mengabdi di TNI, Lalu Pulang Mengabdi Tanah Kelahiran

Yang membedakan Mislan dari kebanyakan politisi adalah latar belakangnya. Sebelum terjun ke dunia politik, ia adalah prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari kesatuan elit dengan segudang prestasi. Selama pengabdiannya, ia tidak hanya bertugas menjaga keamanan dalam negeri, tetapi juga pernah ditugaskan dalam misi perdamaian di kawasan konflik Timur Tengah.

Setelah 29 tahun mengabdi, Mislan memilih pensiun bukan karena lelah, melainkan karena panggilan untuk kembali membangun kampung halaman.

Ia kemudian maju sebagai calon legislatif dari Partai Gerindra untuk Daerah Pemilihan (Dapil) V yang meliputi Kepulauan Sula dan Taliabu. Hasilnya, ia berhasil melenggang ke DPRD Provinsi Maluku Utara untuk periode 2024–2029.

“Demi membangun Taliabu dan demi kepentingan masyarakat, kami siap wakafkan diri demi negeri tercinta,” ujar Mislan.

Sejak awal masa jabatannya, Mislan tampil sebagai suara paling lantang dalam menyoroti ketimpangan pembangunan antara Taliabu dan daerah-daerah lain di Maluku Utara.

Dalam Rapat Paripurna DPRD yang membahas RPJMD 2025–2029, ia tidak segan menyampaikan kritik keras di hadapan Gubernur Sherly Laos.

“Saya sudah membaca buku platform RPJMD 2025–2029, dan saya harus jujur katakan: Pulau Taliabu nyaris tidak tersentuh. Tidak ada satu pun program strategis yang diarahkan ke wilayah kami. Bahkan dalam peta strategi pengembangan lima tahun ke depan, Pulau Taliabu benar-benar kosong,” tegasnya.

Ia juga menyoroti status jalan di Taliabu yang hingga kini belum ditetapkan sebagai jalan provinsi, serta mengingatkan bahwa Sula dan Taliabu masih tergolong daerah tertinggal di antara 10 kabupaten/kota di Maluku Utara.

Di forum lain, saat rapat paripurna R-APBD 2026, Mislan mempertanyakan angka-angka yang disampaikan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

“Jangan sampai angka-angka ini hanya retorika. DPRD tak pernah mendapat dokumen sejak awal, tapi nanti diberitakan seolah keterlambatan APBD adalah kesalahan DPRD,” sindirnya.

 Turun ke Lapangan: Mengawal Proyek Hingga ke Ujung

Mislan bukan tipe anggota dewan yang hanya pandai berbicara di kursi rapat. Ketika proyek strategis Jembatan Beringin Air 1 dan Jembatan Kasango 2 senilai Rp14,09 miliar sedang dikerjakan, ia turun langsung ke lokasi untuk memastikan progres berjalan dan mencatat hambatan distribusi material.

Begitu pula saat informasi simpang siur beredar terkait pembangunan RSUD Tipe C di Bobong. Mislan langsung meninjau lokasi dan mengklarifikasi fakta kepada publik.

“Para pekerja bekerja ekstra hingga larut malam. Material dari luar sudah sesuai standar,” lapornya.

Memulangkan Warga yang Terlantar

Salah satu momen yang paling menggugah hati adalah ketika Mislan menjadi ujung tombak pemulangan Ayu Rahmawati, warga Desa Galebo yang terlantar di Berau, Kalimantan Timur, dalam kondisi sakit depresi.

Mislan bergerak cepat. Ia menghubungi Dinas Sosial Berau, mengurus administrasi BPJS, dan memastikan Ayu dapat kembali ke kampung halamannya. Kisah ini menggema di Taliabu — Mislan bukan sekadar mendengar keluhan, tetapi hadir sebagai solusi nyata.

 Perjuangan Beras Bulog untuk Taliabu dan Kepulauan Sula

Salah satu terobosan paling dirasakan warga adalah keberhasilan Mislan mendatangkan beras Bulog ke wilayah Taliabu dan Kepulauan Sula. Sebelumnya, warga harus membeli beras dengan harga tinggi karena distribusi pangan nasional nyaris tidak pernah menyentuh kedua wilayah ini.

Mislan melobi pemerintah pusat, mengurus administrasi distribusi, mengawal rantai pasok, dan memastikan karung-karung beras Bulog benar-benar tiba di dermaga Bobong.

“Ini baru namanya wakil rakyat. Bukan sekadar duduk manis di DPRD, tapi turun langsung mengurus perut rakyat,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Menerangi Desa-Desa yang Lama Gelap: Listrik Masuk Pelosok

Kegelapan yang selama puluhan tahun menyelimuti desa-desa terpencil di Taliabu dan Kepulauan Sula kini mulai sirna. Mislan menjadi penggerak utama sinergi antarlembaga untuk menghadirkan listrik hingga ke kepulauan terluar — tidak hanya mendorong kebijakan dari kursi dewan, tetapi juga turun langsung mengawal pemasangan tiang-tiang listrik di kampung-kampung yang sebelumnya hanya mengandalkan lampu teplok.

“Listrik bukan sekadar cahaya. Listrik adalah peradaban. Dan Pak Mislan membawanya untuk kami,” kata seorang warga Desa Tikong dengan mata berkaca-kaca.

Mengkoordinasikan Pemulangan Warga Saat Musim Mudik

Setiap musim mudik, warga Taliabu dan Kepulauan Sula yang merantau kerap menghadapi masalah serupa: kapal reguler terbatas, tiket habis, dan banyak yang terdampar di pelabuhan transit seperti Pelabuhan Pembuka dan Kendari.

Mislan turun tangan. Ia berkoordinasi langsung dengan otoritas pelabuhan, Dinas Sosial, dan komunitas perantau untuk memastikan warga dapat pulang dengan selamat.

“Pak Mislan telepon langsung petugas pelabuhan. Beliau yang mengurus tiket dan logistik kami yang terlantar. Kami tidak kenal beliau sebelumnya, tapi beliau kenal kami sebagai warga Taliabu,” kenang seorang pemudik yang sempat terlantar tiga hari di Pelabuhan Pembuka.

Aksi ini kini telah menjadi tradisi baru setiap musim mudik: Mislan bersama Gerindra membuka posko bantuan pemulangan warga.

Sekjen Forum 5 Provinsi Penghasil Nikel: Memperjuangkan Keadilan Dana Bagi Hasil

Di panggung nasional, Mislan mengemban amanah yang tidak kalah strategis. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Forum 5 Provinsi Penghasil Nikel — sebuah aliansi yang terdiri dari Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat Daya.

Forum ini berjuang untuk keadilan dana bagi hasil (DBH) dari tambang nikel. Selama ini, provinsi-provinsi yang tanahnya dikeruk untuk mengambil nikel hanya menerima porsi yang sangat kecil dari hasil eksploitasi tersebut.

“Rakyat yang tanahnya dikeruk nikel berhak merasakan pembangunan. Ini perjuangan panjang, tapi Gerindra bersama Mislan ada di barisan terdepan,” tegasnya.

Menatap Masa Depan: Membuka Peluang Ekonomi bagi Petani dan Nelayan

Kini Mislan memasuki babak baru perjuangannya. Dalam masa resesnya, ia mengajak petani Taliabu untuk memanfaatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai peluang ekonomi yang nyata.

“Ini kesempatan emas. Program ini tidak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga membuka peluang bagi petani lokal,” ujarnya.

Ia bahkan memberikan jaminan tegas kepada para petani “Kalau ada yang menanam pisang dan hasilnya tidak diambil oleh Dapur MBG, laporkan saja ke saya. Saya siap melaporkan langsung ke pusat.”

Sebagai Ketua Tani Merdeka Indonesia wilayah Maluku Utara, Mislan membuktikan bahwa Gerindra tidak hanya hadir saat pemilu, tetapi dalam setiap aspek kehidupan warga.

Ketua PSSI Taliabu: Olahraga sebagai Jembatan Kepercayaan

Mislan juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Taliabu selama dua periode (2020–2030). Ia memperbarui lapangan sepak bola di Desa Tikong dan Tabona, menciptakan ruang bagi generasi muda untuk berprestasi dan menyalurkan semangat mereka. Melalui olahraga, ia membuktikan bahwa partai bisa hadir di tengah euforia dan kehidupan nyata masyarakat.

Mislan Syarif adalah simbol pergulatan dan pengabdian  dari mantan prajurit TNI dengan rekam jejak terhormat, hingga menjadi ujung tombak Gerindra di Taliabu dan Kepulauan Sula. Kehadirannya menghidupkan partai, memberi warna baru bagi politik lokal, dan yang terpenting, membangun harapan yang nyata bagi rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup