Sajak Terakhir di Laut Maluku Utara: Mengenang Dr. Wildan Mattara dan Misi Penelitian yang Berujung Duka
Ternate –Kabar duka menyelimuti dunia akademik Maluku Utara menyusul tragedi tenggelamnya longboat yang membawa rombongan peneliti dari Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Di tengah upaya pencarian yang terus dilakukan secara intensif, sebuah kenangan memilukan menyeruak ke permukaan sebuah puisi berjudul “Menuju Ke Pulau” yang ditulis oleh Dr. Wildan Mattara pada 21 Agustus 2019, kini seolah menjadi firasat yang nyata tentang perjalanan terakhirnya di lautan.
Dr. Wildan, seorang akademisi yang dikenal gigih, sedang menjalankan misi penelitian saat musibah nahas itu terjadi. Namun, jauh sebelum ombak besar menghantam perahunya, ia telah menuangkan kegelisahan dan kasih sayangnya dalam baris-baris sajak yang menyayat hati. “Maafkan ayahmu, Nak. Hari ini tak ada makanan siang yang dapat kubagi untuk kalian,” tulisnya, menggambarkan sosok ayah yang berjuang keras di tengah laut yang tenang namun menyimpan arus mematikan.
Puisi tersebut kini dibaca ulang dengan rasa sesak oleh rekan sejawat dan keluarga. Dalam penggalan baitnya, Dr. Wildan menuliskan tentang “pelayaran terakhir” dan sebuah bingkisan kecil yang tidak mengenyangkan, namun mampu memberi cahaya untuk menerangi perjalanan menuju pulau tujuan.
Kata-kata ini seolah menggambarkan dedikasi beliau yang tidak hanya mencari materi, tetapi memberikan bekal ilmu dan cahaya pengetahuan bagi anak-anaknya dan generasi mendatang.
Kehilangan ini menyisakan duka mendalam bagi Unkhair Ternate dan masyarakat luas. Laut yang selama ini menjadi medan pengabdiannya dalam meneliti, justru menjadi saksi bisu atas dedikasi tertingginya. Kini, doa-doa dipanjatkan agar proses pencarian membuahkan hasil, sembari mengenang pesan terakhir dalam puisinya bahwa hidup adalah tentang menerima dan menjalani pengalaman yang mungkin tidak bisa diterima oleh kebanyakan orang.
Seluruh civitas Akademik Unkhair do’akan kelam, Sang Pejuang Ilmu. Cahaya yang engkau tinggalkan tidak akan pernah habis menerangi perjalanan kami menuju pulau pengabdian.











