Ujian Tutup Disertasi Doktor UNM: Suratman Dahlan Tawarkan Kerangka Pedagogi Penerjemahan Berbasis Kecerdasan Buatan
Makassar-Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menegaskan posisinya sebagai pencetak akademisi unggul melalui raihan capaian membanggakan dalam Program Doktor (S3) Pendidikan Bahasa Inggris.
Suratman Dahlan, yang merupakan dosen aktif Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, berhasil mempertahankan disertasinya yang berfokus pada integrasi inovatif teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan, Selasa (10/2/2026).
Berdasarkan data yang diterima media, ujian tutup disertasi yang berlangsung khidmat ini memiliki nilai istimewa karena dilaksanakan sebagai Ujian Tutup Non-Promosi.
Keistimewaan ini didapatkan Suratman lantaran ia berhasil melampaui standar akademik tinggi dengan mempublikasikan hasil risetnya pada jurnal internasional bereputasi tertinggi, yaitu Scopus Q1. Capaian ini tidak hanya mencerminkan kualitas riset yang mumpuni, tetapi juga kontribusi ilmiah nyata dari Indonesia di level global.
Disertasi yang berjudul “Artificial Intelligence-Assisted Instruction in Teaching Translation at an Indonesian Higher Education Institution” ini berhasil mengantarkan Suratman lulus dengan predikat Yudisium IPK sempurna 4.00, sebuah rekor akademik gemilang yang dicapai dalam masa studi efisien, yaitu 2 tahun 7 bulan.

Dalam paparannya yang memukau di hadapan dewan penguji yang dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum, Suratman menyingkap kebaruan ilmiah (novelty) yang krusial bagi masa depan pendidikan tinggi, yaitu Framework of AI-Integrated Translation Pedagogy. Kerangka kerja konseptual yang ditawarkannya ini dirancang secara holistik untuk menempatkan AI bukan sekadar sebagai alat bantu teknis semata, melainkan sebagai mitra pedagogis yang sistematis dan etis.
Suratman menegaskan bahwa dalam ekosistem pembelajaran yang ia bangun, AI berfungsi sebagai penguat kognitif (cognitive amplification) yang mengalihkan beban tugas-tugas rutin kepada teknologi, sehingga mahasiswa memiliki ruang lebih besar untuk fokus pada aspek berpikir tingkat tinggi, seperti analisis semantik yang tajam, nuansa gaya bahasa, dan kesesuaian konteks budaya.
Lebih jauh, kerangka ini menekankan pentingnya kejujuran akademik dan refleksi metakognitif dalam penggunaan AI, serta mendorong perubahan peran dosen yang fundamental menjadi fasilitator dan mentor kritis, sekaligus menyoroti isu krusial terkait keamanan data mahasiswa.
Apresiasi tinggi datang dari jajaran penguji yang terdiri dari akademisi senior, termasuk Prof. Dr. Djuwariah, M.Pd., M.TESOL, dari UIN Alauddin Makassar selaku penguji eksternal.
Riset ini dinilai sangat relevan dan mampu menjawab tantangan nyata pendidikan tinggi di tengah derasnya arus digitalisasi, karena tidak terjebak pada glorifikasi teknologi semata, melainkan menghadirkan pendekatan kritis yang beretika. Kehadiran promotor dan kopromotor terkemuka seperti Prof. Dr. Syarifuddin Dollah, M.Pd., Prof. Dr. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., serta Assoc. Prof. Dr. La Sunra, M.Hum, semakin memperkuat bobot akademis riset ini untuk menjadi rujukan utama bagi pengembang kurikulum pendidikan bahasa di Indonesia.
Keberhasilan Suratman Dahlan ini menegaskan posisinya sebagai pakar pendidikan bahasa yang produktif dan responsif terhadap transformasi digital, sekaligus menjadi inspirasi bagi akademisi lain di wilayah Timur Indonesia untuk terus berinovasi dan mengangkat isu pendidikan nasional ke panggung dunia.










