Jalan-jalan Kepsek ke Jogja di Tengah Pengetatan Anggaran, Akademisi: “Tidak Pantas”
Ternate-Kebijakan efisiensi anggaran yang sedang digalakkan pemerintah pusat dan daerah seakan bertepuk sebelah tangan dengan realita di lapangan.
Kabar miring menerpa dunia pendidikan Kota Ternate setelah sejumlah Kepala Sekolah Dasar (SD) asal Kecamatan Ternate Selatan terpantau memboyong rombongan melakukan perjalanan ke Yogyakarta pada Kamis (8/1/2026).
Langkah keberangkatan para rombongan ini memicu polemik panas. Pasalnya, kepergian mereka dilakukan saat instruksi pengetatan perjalanan dinas sedang diperketat, ditambah lagi status mereka yang meninggalkan sekolah di saat hari kerja aktif.
Penelusuran media menunjukkan bahwa ini bukan kali pertama para Kepsek di Ternate Selatan melakukan perjalanan luar daerah secara rombongan. Pada Juni 2023, kelompok yang sama tercatat melakukan tur lintas negara (Jakarta-Singapura-Malaysia). Kini, pola serupa terulang dengan tujuan Yogyakarta tanpa urgensi yang jelas bagi peningkatan mutu pendidikan di Ternate.
Akademisi Muamil Sunan memberikan komentar pedas terkait fenomena ini. Pada Jumat (9/1/2026), ia menegaskan bahwa Kepala Sekolah adalah pimpinan yang memegang peran sentral dalam manajemen sekolah dan tidak seharusnya meninggalkan tugas saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung.
“Sangat tidak rasional alasan studi banding menggunakan uang pribadi namun dilakukan secara kolektif di jam kerja aktif. Kepsek seharusnya menjadi pemimpin pendidikan yang menciptakan budaya sekolah positif, inovator, dan penggerak, bukan malah meninggalkan tanggung jawab,” tegas Muamil.
Ia juga menambahkan bahwa tindakan tersebut sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pimpinan institusi pendidikan.
“Sikap meninggalkan sekolah merupakan perbuatan yang tidak patut, terlepas dari alasan apapun, termasuk studi banding.”
Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate, Muhlis Djumadil sebelumnya, memberikan jawaban yang terkesan mengambang saat dikonfirmasi via telepon. Ia mengaku sedang di luar daerah karena urusan keluarga (anak sakit) dan tidak mengetahui detail keberangkatan tersebut. Meski begitu, ia tetap membela bawahannya.
“Anggaran yang dipakai itu anggaran pribadi, mereka studi banding,” klaim Muhlis singkat.
Namun, pengakuan “dana pribadi” ini dibantah oleh sumber internal yang enggan disebutkan namanya. Ia menyebut keberangkatan ini menggunakan pola lama yang sudah menjadi rahasia umum.
“Bukan uang pribadi. Diduga itu pola lama dengan memotong setengah dari anggaran BOS atau BOSDA. Yang aneh, kalau ini studi banding antar Kepsek, kenapa ada Kabid Mutasi dan Promosi, BKD Sitti Jawan Lessy, ikut di dalam rombongan?” ungkap sumber tersebut penuh tanya.
Sementara itu, salah satu peserta rombongan, Rinto (Kepsek SDN 25 Kota Ternate), membenarkan keberadaannya di Yogyakarta saat dihubungi. Namun, ia tidak memberikan penjelasan mengenai agenda kerja maupun sumber dana yang digunakan.
“Iya, saya berada di Yogyakarta. Nanti hubungi kembali karena saya sedang di jalan,” jawabnya singkat sebelum mematikan sambungan telepon.









