Bukan Hanya Jurnalis, Wasit FIFA Thoriq Jadi Korban Pukul Suporter, Malut United Bakal Kena Sanksi Berat

TERNATE – Hari kelam bagi sepak bola Indonesia kembali terukir di Stadion Gelora Kie Raha. Bukan hanya insiden intimidasi terhadap jurnalis yang menggemparkan publik, tetapi juga aksi brutal oknum suporter yang tega memukul wasit berlisensi FIFA, Thoriq Alkatiri, usai laga kontra PSM Makassar.

Kini, Malut United FC harus bersiap menerima hukuman berat berlapis dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.

Dua insiden dalam satu malam yang sama kekerasan terhadap wasit dan intimidasi terhadap pers membuat Malut United terancam sanksi berat yang tidak hanya membebani finansial klub, tetapi juga bisa mengusir suporter dari stadion pada laga-laga krusial mendatang.

KRONOLOGI KEKERASAN: Gol Dianulir VAR, Wasit Thoriq Kena Pukul

Laga pekan ke-25 BRI Super League antara Malut United dan PSM Makassar yang berakhir dramatis 3-3 seharusnya menjadi tontonan menarik.

Namun, tensi memuncak setelah wasit Thoriq Alkatiri menganulir gol keempat Malut United yang dicetak David Da Silva di pengujung laga. Setelah meninjau tayangan VAR, wasit asal Purwakarta itu memutuskan bahwa telah terjadi pelanggaran terlebih dahulu .

Keputusan tersebut memicu kemarahan ofisial dan pendukung tuan rumah. Pasca peluit panjang berbunyi, situasi di lapangan berubah chaos.

Dalam rekaman video yang beredar luas, Thoriq terlihat dikerubungi dan diteriaki oleh sejumlah ofisial Malut United saat hendak menuju ruang ganti .

Meski dalam pengawalan ketat steward, seorang oknum suporter berhasil mencuri celah. Saat Thoriq berada tepat di depan lorong stadion, seorang pria terekam memukul kepala kepala wasit berusia 37 tahun itu.

Selain itu terlihat pria lainnya yang lebih dulu memukulkan sehelai kain ke arah Thoriq.

Thoriq sempat terhuyung dan terpaksa berlari masuk ke lorong untuk menyelamatkan diri. Tak hanya Thoriq, asisten wasit yang berada di dekatnya pun nyaris menjadi sasaran amuk massa .

Situasi semakin kacau ketika oknum official yang sama yang diduga melakukan intimidasi terhadap jurnalis juga membuntuti wasit hingga ke area ruang ganti.

Setibanya di depan ruang ganti, ia beberapa kali menggedor pintu dengan keras sambil melontarkan umpatan dan ancaman kepada wasit di dalam. Akibatnya, tim perangkat pertandingan memilih mengunci diri di ruang ganti selama kurang lebih satu setengah jam, baru berani keluar setelah polisi dan steward memastikan kondisi aman pada pukul 00.20 WIT .

Forum Wasit Indonesia langsung bereaksi keras dan mendesak Komdis PSSI untuk menjatuhkan sanksi berat. “Komdis tolong sanksi tegas. Situasi ini sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa diterima. Wasit seperti apa yang kalian inginkan?” tulis pernyataan resmi Forum Wasit Indonesia .

 

INTIMIDASI JURNALIS: Bos Klub Ikut Angkat Bicara, Wartawan Dipaksa Hapus Video

Di tengah kekacauan penyerangan wasit, insiden tidak kalah memalukan terjadi di tribune media. Irwan Djailani (Bradex), wartawan RRI Ternate, menjadi korban intimidasi saat tengah mendokumentasikan perjalanan perangkat pertandingan.

Seorang pria yang diduga official tim Malut United menghampirinya dan memaksa penghapusan video dengan teriakan provokatif: “Kamu wartawan, kamu harus hapus video itu!” .

Tak hanya itu, pria tersebut juga meminta steward untuk mengusir para wartawan dari area tribun meskipun mereka semua telah membawa ID Card resmi peliputan BRI Super League.

Yang lebih mengejutkan, pemilik Malut United FC, David Glen Oei, yang menyaksikan peristiwa tersebut bukannya menenangkan situasi, justru ikut menyalahkan para jurnalis.

“Kamu dari mana? Kalau dari Ternate kenapa tidak mendukung kami?” katanya melontarkan pernyataan kontroversial .

Atas insiden tersebut, Kantor Hukum Bahmi Bahrun & Partners resmi melaporkan David Glen Oei dan official Malut United ke Polres Ternate atas dugaan penghalangan kerja jurnalistik dan intimidasi—sebuah tindakan yang melanggar UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dengan ancaman pidana penjara dua tahun atau denda Rp500 juta.

Ancaman Sanksi Berlapis Dari Komdis PSSI

Dengan dua insiden berat dalam satu malam yang sama kekerasan terhadap wasit dan intimidasi terhadap media Malut United FC kini berada di ujung tanduk. Komite Disiplin PSSI dipastikan akan menjatuhkan sanksi berat berlapis berdasarkan Kode Disiplin PSSI 2025.

  1. Sanksi untuk Kekerasan terhadap Wasit

Merujuk pada pasal-pasal dalam Kode Disiplin PSSI, klub bertanggung jawab penuh atas perilaku suporter dan ofisialnya. Dari insiden pemukulan terhadap Thoriq Alkatiri, Malut United terancam:

  • Denda minimal Rp 40 jutakarena panitia pelaksana gagal memenuhi tanggung jawab dan kewajiban keamanan (Pasal 69 Kode Disiplin PSSI 2025) .
  • Denda tambahan minimal Rp 30 jutaterkait tanggung jawab terhadap perilaku buruk penonton .
  • Larangan satu hingga dua laga kandang tanpa penontonatau penutupan sebagian tribune stadion. Artinya, suporter Malut United bisa dilarang hadir di Stadion Gelora Kie Raha pada laga-laga krusial melawan Dewa United (12 April), Persebaya Surabaya (23 April), Persis Solo (2 Mei), dan Persita Tangerang (16 Mei) .

Jika melihat preseden kasus serupa, Komdis PSSI pernah menjatuhkan hukuman berat kepada Madura United pada 2017. Saat itu, ofisial yang masuk lapangan dan menendang wasit dihukum larangan memasuki stadion hingga 10 pertandingan dan denda Rp50 juta. Bahkan, manajer Bhayangkara FC, Sumardji, pernah dihukum larangan memasuki stadion 5 pertandingan dan denda Rp75 juta karena mendorong asisten wasit .

  1. Sanksi untuk Intimidasi terhadap Jurnalis

Meskipun intimidasi terhadap media lebih banyak berurusan dengan ranah pidana umum (UU Pers), Komdis PSSI juga bisa menjatuhkan sanksi etik dan disiplin kepada klub.

Pasalnya, tindakan ofisial klub yang memaksa wartawan menghapus video dan mengusir dari area liputan merupakan pelanggaran berat terhadap kode etik dan regulasi kompetisi.

PSSI Pers (Satuan Tugas PSSI untuk isu pers) telah mengutuk keras tindakan intimidasi tersebut. “PSSI Pers menegaskan bahwa kerja jurnalistik dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Segala bentuk intimidasi, ancaman, atau upaya menghalangi tugas wartawan merupakan tindak pidana yang dapat dijerat hukum,” tegas pernyataan resmi PSSI Pers .

Klub bisa mendapatkan sanksi tambahan berupa teguran resmi hingga denda etik jika terbukti ofisialnya melakukan penghalangan kerja jurnalistik. Apalagi, pemilik klub sendiri ikut terlibat dalam insiden tersebut.

  1. Potensi Sanksi Individual untuk Official dan Pemilik Klub

Tak hanya klub, oknum official yang menggedor ruang wasit dan mengintimidasi jurnalis, serta David Glen Oei yang diduga melakukan tekanan kepada wartawan, juga berpotensi mendapatkan sanksi individual dari Komdis PSSI.

Berdasarkan preseden, Komdis PSSI pernah menjatuhkan hukuman larangan beraktivitas dalam sepak bola selama tiga bulan kepada Asisten Manajer Malut United, Asghar Saleh, karena pernyataan kontroversial tentang “mafia sepak bola” di media sosial . Untuk kasus yang lebih berat seperti intimidasi fisik dan penghalangan kerja jurnalis, sanksi serupa atau bahkan lebih berat sangat mungkin dijatuhkan.

 

RESPON PSSI: “Kami Serahkan ke Komdis”

Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menyayangkan tindakan tersebut dan menegaskan bahwa insiden seperti ini tidak pantas terjadi di level tertinggi sepak bola nasional. “PSSI sangat menyayangkan kejadian tersebut. Kami sangat tidak menginginkan hal-hal seperti ini terjadi, apalagi di Super League. Klub-klub strata pertama seharusnya hal-hal seperti ini tidak bisa lagi terjadi,” ujar Yunus .

Menurutnya, tidak ada kesalahan fatal yang dilakukan perangkat pertandingan. “Mengapa hal-hal ini dilakukan dan terulang-ulang? Tentu ini menjadi bahan dari komite disiplin untuk mengambil keputusan. PSSI menyerahkan semuanya kepada Komdis, apa pun keputusannya, semua pihak harus menerimanya,” tegas Yunus .

Wasit Thoriq Alkatiri sendiri enggan berkomentar banyak dan telah menyerahkan keterangan lengkap kepada Komdis PSSI sebagai bagian dari laporan pasca-pertandingan .

 

Satu Malam, Dosa Berlapis

Malam itu, Stadion Gelora Kie Raya tidak hanya menyaksikan kegagalan Malut United meraih kemenangan. Lebih dari itu, stadion kebanggaan Ternate menjadi saksi dua dosa besar: penganiayaan terhadap wasit FIFA dan intimidasi terhadap insan pers.

Publik kini menanti vonis Komdis PSSI. Jika merujuk pada regulasi dan preseden kasus serupa, Malut United harus bersiap kehilangan dukungan langsung suporter di beberapa laga kandang sisa musim, membayar denda hingga ratusan juta rupiah, dan mungkin kehilangan sejumlah ofisialnya yang dilarang beraktivitas di sepak bola.

Akankah ini menjadi pelajaran berharga bagi Malut United dan seluruh klub Super League untuk menghormati wasit dan melindungi kebebasan pers? Ataukah sepak bola Indonesia akan terus terpuruk dalam lingkaran setan kekerasan dan arogansi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup