Tak Diunggulkan, Justru Menembus Nasional: Kisah SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan
MalutUpdate.com-Di sebuah desa bernama Auponhia, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, berdiri SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan. Selama bertahun-tahun, sekolah ini nyaris tidak pernah diperhitungkan dalam ajang kepramukaan. Keterbatasan fasilitas, akses geografis, dan minimnya pengalaman mengikuti kompetisi tingkat daerah membuat sekolah ini berada di luar radar persaingan.
Namun tahun ini, sejarah itu berubah. Untuk pertama kalinya sejak sekolah tersebut berdiri, dua siswa SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan berhasil terpilih sebagai peserta Jambore Nasional, sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan besar bagi sekolah dan masyarakat Auponhia.
Plt. Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Auponhia (IPMA), Rifaldi Basahona, menilai prestasi tersebut sebagai tonggak penting dalam sejarah pendidikan di Auponhia.
“Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa bagi kami, khususnya masyarakat Auponhia. Anak-anak Auponhia memiliki potensi yang besar. Mereka kreatif, berani, dan memiliki kemampuan untuk bersaing. Persoalannya selama ini adalah ruang untuk menampilkan potensi mereka masih sangat terbatas,” ujarnya.
Menurut Rifaldi, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan Ibu. Ulfa Kamaludin Umafagur, yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil menghidupkan kembali semangat pembinaan siswa melalui kegiatan kepramukaan.
Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan sering dipandang sebelah mata, bahkan oleh sebagian masyarakat sendiri.
“Jujur saja, dulu sekolah ini sering diremehkan. Bahkan ada orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anaknya ke kota karena menganggap sekolah ini tidak memiliki masa depan yang menjanjikan. Namun hari ini, anggapan itu dipatahkan oleh prestasi para siswanya,” katanya.
Rifaldi menilai salah satu kekuatan kepemimpinan Ulfa Kamaludin adalah kemampuannya membaca potensi peserta didik. Menurutnya, Pramuka tidak lagi diposisikan sekadar sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, disiplin, dan kepercayaan diri siswa.
“Melalui latihan rutin, pembinaan yang intensif, dan pendampingan para pembina, siswa dibentuk menjadi pribadi yang kompetitif dan percaya pada kemampuannya sendiri. Inilah yang menurut saya menjadi salah satu faktor penting keberhasilan mereka,” jelasnya.
Bagi masyarakat Auponhia, keberhasilan dua siswa tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar lolos ke Jambore Nasional. Prestasi itu menjadi simbol bahwa anak-anak dari desa mampu berdiri sejajar dengan siswa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Keberhasilan ini bukan sekadar tentang dua siswa yang lolos ke tingkat nasional, melainkan menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh letak geografis dan kelengkapan fasilitas. Keberhasilan ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa sekolah-sekolah di pelosok sulit melahirkan prestasi nasional.”
Rifaldi berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh pelajar Auponhia untuk terus mengembangkan kemampuan, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Ia juga mendorong pemerintah daerah agar memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pengembangan pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah terpencil.
“Masih banyak potensi anak-anak Auponhia yang belum mendapatkan ruang untuk berkembang. Karena itu, dukungan pemerintah, sekolah, dan terutama orang tua sangat penting agar anak-anak berani mengikuti berbagai kegiatan yang dapat mengasah kemampuan dan memperluas pengalaman mereka,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Rifaldi menegaskan bahwa keberhasilan dua siswa tersebut merupakan bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi.
“Pelajar Desa Auponhia telah membuktikan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari sekolah yang besar dan lengkap. Terkadang, prestasi lahir dari keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari sebuah desa kecil di ujung Mangoli Selatan, sejarah baru pendidikan itu kini telah dimulai,” pungkasnya.








